oleh Nurul Hayat
Jangan mengaku penikmat kwetiau (mie tiau) Pontianak sejati, bila tak kenal "Restoran Kwetiau Sapi Seroja Baru", restoran kwetiau yang tetap setia dengan bungkus "daun simpur"-nya sejak 1958.
Restoran yang berada di Jl Diponegoro Pontianak tersebut, sejak 50 tahun lalu berjualan makanan yang berbahan dasar mie putih dari tepung beras.
Kwetiau produk Restoran Kwetiau Sapi Seroja Baru, memang berbeda dengan kwetiau lain. Selain rasanya yang lezat, yang menjadi pembeda adalah pembungkusnya; "daun simpur".
"Penggunaan daun simpur sebagai pembungkus kwetiau sudah berlangsung sejak restoran masih dikelola mendiang ayah saya," kata Paiman Candra, pemilik Restoran Kwetiau Sapi Seroja Baru, Rabu.
Daun simpur diperolehnya dari seseorang. "Biasanya diantar dua hari sekali. Ini sudah ada sejak lama. Lama sekali....," katanya.
Ketika awal berdiri, Kwetiau Sapi Seroja Baru, hanyalah warung kaki lima. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah pelanggan, usaha Kwetiau Seroja Baru tersebut kemudian menempati sebuah rumah toko (ruko) di kawasan Pasar Seroja lama.
Sudah lebih 10 tahun ini, Restoran Kwetiau Sapi Seroja Baru menempati salah satu ruko di kawasan perdagangan Jl Diponegoro. Lokasi itu kemudian pepuler dengan julukan Seroja Baru. Lokasinya sangat strategis, karena berada persis di sisi kanan Hotel Santika Pontianak. Setiap tamu hotel biasanya mampir sejenak ke restoran tersebut.
Paiman yang melanjutkan usaha peninggalan orang tuanya itu, menyatakan hanya restorannya yang menggunakan daun simpur sebagai pembungkus. Alasannya, karena daun tersebut harum. Kwetiau yang dibungkus daun simpur, menjadi harum, terlihat menarik dan mengundang selera.
Namun untuk bisa digunakan sebagai pembungkus, lembaran daun simpur mesti dicuci dengan air bersih dan dikeringkan satu demi satu. "Jika sudah bersih, baru dapat dipergunakan sebagai pembungkus," katanya.
Sejak beberapa tahun terakhir, daun simpur sulit ditemukan. Sehingga restoran milik Paiman pun adakalanya kehabisan stok daun pembungkus itu.
"Jika persediaan menipis, kami cepat-cepat memesan daun ini lagi kepada orang yang biasa mengantar ke sini," katanya tanpa menjelaskan dari mana asal daun tersebut.
Dillenia eximia
Daun simpur berasal dari tanaman bernama latin "dillenia eximia". Beberapa literatur online, menyebutkan daun simpur memiliki ciri-ciri berwarna hijau tua, berukuran besar mirip daun mengkudu namun lebih lebar lagi. Memiliki tulang daun yang tampak jelas dan pada lembaran daunnya terdapat bulu-bulu halus.
Hanya sedikit literatur yang mengungkap keberadaan tanaman simpur, meski tanaman tersebut diketahui berasal dari Indonesia.
Di sejumlah daerah, semisal Kalbar dan Jawa Barat, penduduknya menyebut tanaman "dillenia eximia" atau "dillenia aurea" atau "dillenia spigata" sebagai simpur. Namun orang Jawa menamakan junti.
Sebagian orang tua di wilayah Kalbar sangat mengenal tanaman ini. Karena biasa digunakan sebagai pembungkus nasi oleh peladang berpindah di pedalaman Kalbar.
"Sewaktu kecil, kami biasa melihat daun simpur digunakan sebagai pembungkus nasi orang Dayak yang hendak ke ladang," kata Nazariyah (64).
Nasi yang dibungkus dengan duan simpur, akan terasa hangat lebih lama. "Saya pun sering mencicipi nasi yang dibungkus dengan daun simpur itu," kata Nazariyah yang lahir dan tumbuh hingga remaja di Sanggau.
Muhammad Bayu (35) berkisah, ketika kecil sering mengumpulkan daun simpur di hutan dekat tempat tinggalnya di kawasan Siantan, Pontianak Utara. Daun tersebut kemudian ia jual kepada pedagang di pasar tradisional di Kota Pontianak.
"Uang hasil penjualan daun simpur, untuk jajan (membeli kue atau makanan lainnya)," kata Bayu yang kini menjadi koresponden pada salah satu stasiun televisi swasta.
Sementara dari beberapa literatur, pohon simpur memiliki ciri khusus dan dikenal sebagai pohon yang bisa menangis. Pohonnya termasuk jenis kayu dari keluarga "dilleniaceae".
Pohon simpur bisa mencapai 27 meter dengan diameter batang 70 centimeter. Bagian kayu tidak begitu kuat dan berada satu tingkat di bawah pohon Jati. Pohon simpur tumbuh pada 600 meter di atas permukaan laut.
Keluarga pohon "dillenia" memiliki sifat-sifat khusus, sehingga pohon ini dikelompokkan dalam satu famili. Kayu "dillenia" mempunyai serat-serat memanjang yang tidak putus-putus dari bawah sampai ke ujung batang. Dengan dinding-dinding serat yang sedikit alot.
Adanya pengisapan zat-zat makanan dari daun yang cukup kuat, serta tekanan dari akar yang relatif sangat kuat menyebabkan tekanan udara di dalam serat-serat menjadi lebih besar dari tekanan udara di sekitarnya. Sampai saat ini, para ahli masih berbeda pendapat mengenai penyebab tekanan udara yang lebih besar tersebut.
Jika cuaca agak panas, tekanan udara akan lebih besar lagi, sehingga menyebabkan tekanan udara di sekitar menjadi berkurang.
Jika pohon simpur dilukai dengan cara ditebang atau dicongkel-congkel dengan pisau, pembuluh di dalam serat akan terluka dan putus-putus. Akibatnya udara di dalam batang akan menekan keluar. Karena lubang-lubang pembuluh berukuran sangat sempit, menyebabkan timbul bunyi mendesis terus-menerus, hingga tekanan udara di dalam kayu sama dengan tekanan udara di luar.
Bunyi mendesis yang terdengar, seperti orang sedang menangis. Suara "tangisan" tersebut tidak jarang disertai dengan keluarnya cairan berwarna agak kemerahan dari bekas luka pada bagian batang yang terkena irisan pisau.
Kini, daun simpur amat jarang ditemukan. Restoran kwetiau milik Paiman Candra, tetap setia menggunakan pembungkus itu meski harus bersabar menunggu datangnya si pengantar daun.
Kwetiau
Kwetiau merupakan salah satu makanan khas masyarakat peranakan Tionghoa. Makanan yang berbahan dasar mie putih ditambah irisan daging (sapi/babi), sedikit sayur sawi atau tauge, dan dibumbui lada dan kecap manis itu selalu mengundang selera.
Bondan Winarno, pembawa acara kuliner salah satu stasiun televisi swasta, pernah berkunjung ke Pontianak untuk merasakan sensasi dari makanan tersebut. Bondan yang datang pada September 2007, mampir di salah satu warung kwetiau yang bernama Apolo, di Jl Pattimura.
Sebenarnya, ada beberapa lokasi warung atau restoran kwetiau yang terkenal di Pontianak. Pembeli tidak perlu ragu mengenai kehalalannya. Karena setiap restoran tersebut memberi label "halal" di pintu masuk atau gerobak jualannya. Jika pun tidak ada tulisan "halal", bisa bertanya sebelum membeli.
Warung Kwetiau Apolo, persis bersebelahan dengan Warung Kwetiau Polo, keduany sama-sama terkenal. Selain itu ada Restoran Kwetiau Antasari di Jalan Antasari, dan tentu saja Restoran Kwetiau Sapi Seroja Baru.
Adapula kwetiau lainnya di kawasan Pecinan, Jalan Gajah Mada dan Tanjungpura. Namun untuk kawasan tertentu itu, pembeli muslim mesti berhati-hati. Banyak tempat makan kwetiau yang khusus untuk warga nonmuslim, karena mengandung babi.
Jika secara kebetulan singgah dan ingin mencicipi makanan ini, hendaknya jangan malu bertanya.
Adapula kwetiau bakar yang proses pembuatannya dibakar di atas tungku arang. Lokasinya, di Jalan HOS Cokroaminoto.
Jika ragu membeli kwetiau "made in" Tionghoa, masih ada tempat lain yang juga menjual menu ini, seperti Warung Nasi Jawa di Jl Johar. Kwetiau atau mie goreng yang dibuat di warung itu juga menggunakan tungku. Kemudian warung mie goreng di Jalah Tanjungpura, yang tidak memiliki nama khusus, namun juga cukup laris.
Harga setiap porsi kwetiau bervariasi dari Rp8.000 hingga Rp12.000. Meski relatif mahal, namun setiap tempat memiliki rasa khas. Kebanyakan warga Pontianak pencinta kwetiau, enggan pindah dari satu warung atau restoran ke tempat lainnya.
Kwetiau, juga dijual di warung bakso Jalan Merdeka dan Jalan Sutan Abdurrahman. Keduanya cabang dari Bakso PSP (Suster) yang pusatnya di Jalan Kartini, juga sangat laris hingga Jakarta.
Sementara khusus kwetiau dari Restoran Kwetiau Sapi Seroja Baru, menurut Paiman Candra, sudah memiliki cabang di Jakarta.
Ada empat tempat, yakni Komplek Pertokoan Green Ville Blok BG No 5 Jakarta Barat, Mal Taman Anggrek Lantai 4 Food Court, ITC Campaka Mas Lantai 5 No 74 Cempaka Putih, dan Komplek Sutera Niaga No 26 Alam Sutera Serpong (Tangerang).
"Jika ingin makan di tempat-tempat itu, bilang saja, saya orang Pontianak, dan minta dimasakkan kwetiau khas Pontianak," katanya.
Senin, 14 Januari 2008
Kamis, 03 Januari 2008
SELAMA 2007 TERPANTAU 7.499 HOTSPOT DI KALBAR
Pontianak, 3/1 (ANTARA) - Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalimantan Barat dalam evaluasi lingkungan hidup selama 2007, mengungkapkan terdapat sebanyak 7.499 hotspot atau titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan di provinsi tersebut sepanjang tahun lalu.
Kepala Bapedalda Kalbar, Tri Budiarto, di Pontianak, Kamis, mengatakan, jumlah titik panas terbanyak terjadi pada Agustus dan September.
Data titik panas yang dicatat Bapedalda, berdasarkan data per hari dari satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang memantau titik panas seluruh kabupaten/kota di wilayah Kalbar sepanjang Maret hingga Oktober.
Berkaitan masih banyaknya aktifitas pembukaan lahan dengan cara bakar, menurut Tri, selama 2007 telah melakukan sejumlah upaya guna menyosialisasikan penanggulangan kabut asap.
Upaya tersebut semisal mengukuhkan sembilan kelompok peduli api di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Pontianak, mengadakan workshop kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dan bencana asap, serta sosialisasi pengolahan lahan tanpa bakar kepada 150 orang yang berada di sekitar bandar udara Supadio.
Selama tahun 2007 pula, dua perusahaan yang diduga melakukan kegiatan pembakaran lahan juga diproses sesuai ketentuan hukum. Kedua perusahaan dimaksud, PT Wilmar Sambas Plantation (PT WSP) dan PT Buluh Cawang Plantation (PT BCP). Namun Majelis Hakim Pengadilan Negeri Singkawang memvonis bebas kedua perusahaan tersebut karena tidak terbukti bersalah.
Kejaksaan Negeri Sambas melalui Kejaksaan Tinggi Kalbar mengajukan peninjauan kembali (PK) atas perkara itu, demikian Kepala Bepedalda, Tri Budiarto.
Kepala Bapedalda Kalbar, Tri Budiarto, di Pontianak, Kamis, mengatakan, jumlah titik panas terbanyak terjadi pada Agustus dan September.
Data titik panas yang dicatat Bapedalda, berdasarkan data per hari dari satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang memantau titik panas seluruh kabupaten/kota di wilayah Kalbar sepanjang Maret hingga Oktober.
Berkaitan masih banyaknya aktifitas pembukaan lahan dengan cara bakar, menurut Tri, selama 2007 telah melakukan sejumlah upaya guna menyosialisasikan penanggulangan kabut asap.
Upaya tersebut semisal mengukuhkan sembilan kelompok peduli api di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Pontianak, mengadakan workshop kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dan bencana asap, serta sosialisasi pengolahan lahan tanpa bakar kepada 150 orang yang berada di sekitar bandar udara Supadio.
Selama tahun 2007 pula, dua perusahaan yang diduga melakukan kegiatan pembakaran lahan juga diproses sesuai ketentuan hukum. Kedua perusahaan dimaksud, PT Wilmar Sambas Plantation (PT WSP) dan PT Buluh Cawang Plantation (PT BCP). Namun Majelis Hakim Pengadilan Negeri Singkawang memvonis bebas kedua perusahaan tersebut karena tidak terbukti bersalah.
Kejaksaan Negeri Sambas melalui Kejaksaan Tinggi Kalbar mengajukan peninjauan kembali (PK) atas perkara itu, demikian Kepala Bepedalda, Tri Budiarto.
USKUP KALIMANTAN AJAK UMAT BERTOBAT ATASI KERUSAKAN LINGKUNGAN
Pontianak, 3/1 (ANTARA) - Para uskup se Kalimantan mengeluarkan Surat Gembala pada akhir Desember 2007 yang isinya berupa ajakan agar umat bertobat sebagai upaya nyata mengatasi kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Dalam Surat Gembala yang diterima ANTARA di Pontianak, Kamis, para uskup menyatakan meningkatnya pencemaran air sungai, danau dan laut, tanah dan udara, pembakaran dan kebakaran hutan, pengurasan tambang secara rakus, pengalihan fungsi hutan rakyat dan lahan pertanian, penimbunan sampah di pemukiman padat penduduk, mengakibatkan kemerosotan mutu lingkungan hidup.
Surat Gembala yang dikeluarkan enam uskup di Kalimantan, termasuk salah satunya, Uskup Agung Pontianak, Mgr. H. Bumbun, OFM. Cap tersebut, mengutip pernyataan Paus Yohanes Paulus II, yang mengatakan krisis lingkungan hidup pada dasarnya adalah masalah moral.
Oleh sebab itu pertobatan adalah suatu keharusan. Wujudnya adalah memperlakukan bumi dan segala ciptaan secara bertanggung jawab, karena alam semesta diciptakan oleh Allah demi kemuliaan-Nya dan kesejahteraan manusia.
Para uskup se Kalimantan, terdiri atas Uskup Agung Pontianak Mgr H Bumbun, OFM. Cap, Uskup Agung Samarinda Mgr Fl Sului, MSF, Uskup Ketapang, Mgr Bl Pujaraharja, Uskup Palangkaraya Mgr A Sutrisnaatmaka, MSF, Uskup Banjarmasin Mgr F.X Prajasuta, MSF, Uskup Sanggau Mgr Y. Mencuccini, CP, Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus dan Uskup Tanjung Selor, Mgr Y. Harjosusanto, MSF.
Menurut mereka, pengrusakan dan kerusakan lingkungan hidup telah menjadi keprihatinan besar karena mengancam kelangsungan kehidupan di bumi ini.
Kemerosotan mutu lingkungan hidup mengakibatkan kekacauan musim, kekeringan, banjir dan tanah longsor, musnahnya berbagai jenis hewan dan tumbuhan, pemanasan bumi dan naiknya permukaan air laut, sehingga malapetaka ahsyat mengamcam umat manusia, yaitu kehancuran bumi.
Rusaknya lingkungan hidup di tingkat lokal berdampak pada tingkat nasional, internasional, bahkan global. Maka pelestarian dan peningkatan mutu lingkungan hidup di tingkat lokal, bukan hanya bermanfaat bagi kepentingan setempat, tetapi juga kepentingan yang lebih luas.
Menyikapi keadaan gawat itu, PBB telah berulang kali menyelenggarakan konperensi internasional. Baru-baru ini telah dilangsungkan pertemuan internasional tentang perubahan iklim yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007.
Setiap penghuni bumi ini harus menyadari betapa penting dan mendesaknya tindakan nyata untuk menyelamatkan bumi kita dari kehancuran.
Tak berdiri sendiri
Surat Gembala juga mengatakan, masalah lingkungan hidup tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan semua bidang kehidupan, seperti hukum, politik, ekonomi, social, budaya, mental dan moral.
Oleh karena itu masalah lingkungan hidup perlu dilihat dari berbagai sudut pandang dan ditangani secara serentak dan terpadu oleh semua pihak.
Kepedulian terhadap masalah lingkungan hidup merupakan suatu keharusan dan panggilan. Sikap acuh tak acuh terhadapnya merupakan kejahatan, karena mengabaikan keselamatan umat manusia.
Gereja yang dipanggil untuk meneruskan kebaikan dan kasih Allah kepada umat manusia sadar bahwa menyelamatkan umat manusia dari kehancuran bumi adalah pelaksanaan perintah cintakasih.
Dalam ensikliknya yang pertama, Redemptor Hominis Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup adalah bagian hakiki dari Ajaran Sosial Gereja.
Nota Pastoral KWI 2005, SGKI 2005 dan APP 2008 mendorong seluruh umat dan semua pihak untuk menghadapi masalah lingkungan hidup dengan tindakan nyata.
Kepedulian Gereja tidak terbatas pada imbauan dan arahan, tetapi juga dalam tindakan nyata dari gereja setempat.
Kemerosotan
Tertulis lebih lanjut dalam Surat Gembala tersebut, penyebab kemerosotan mutu lingkungan hidup itu serumit segala kenyataan hidup. Akan tetapi penyebab utamanya adalah mentalitas mengajar kenikmatan sepuas-puasnya dan memiliki sebanyak-banyaknya.
Mentalitas ini membuat orang tidak lagi mempedulikan Allah, kecuali dirinya sendiri, tidak lagi menghargai kehidupan dan menghalalkan segala cara.
Sikap dan gaya hidup ini tidak peduli terhadap keutuhan lingkungan hidup dan keharmonisan ciptaan. Tidak mau tahu bahwa bumi ini untuk semua manusia, termasuk generasi yang akan datang.
Mentalitas serakah dan rakus ini hanya memikirkan bagaimana meningkatkan taraf hidup dan mengabaikan mutu hidup. Keinginan meningkatkan taraf hidup tidak ada salahnya, menjadi salah bila mutu hidup dikorbankan demi taraf hidup dalam bidang ekonomi.
Karena itu, menurut para uskup lagi, masalah lingkungan hidup menuntut adanya tindakan nyata dari semua pihak. Pemerintah dan wakil rakyat harus berkiblat pada pelestarian alam. Menghormati kearifan local dan berpihak pada rakyat. Mengundang investor bukan hanya untuk peningkatan pendapatan daerah, melainkan juga sungguh untuk kesejahteraan rakyat.
Selain itu, para pengusaha harus menaati peraturan, mempedulikan hak dan kesejahteraan masyarakat setempat, menghentikan pembabatan hutan dan penambangan secara liar, dan menjaga lingkungan agar pencemaran air dan udara tidak berlanjut.
Sementara para penegak hukum, harus berani menindak tegas pengusaha yang tidak menaati peraturan dan merugikan masyarakat. Orang tua dan pendidik menanamkan nilai-nilai cinta kehidupan kepada anak-anak sejak dini baik di rumah maupun di sekolah.
" Kita masing-masing tidak dapat menghadapi masalah besar ini sendiri, namun demikian apa yang bisa kita dapat kerjakan harus kita mulai. Kita semua, tua-muda harus berani mengerjakan hal-hal yang sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan rumah dan kampung, menanam pohon dan tanaman hias, dan melestarikan hutan rakyat," katanya .
"Kita adalah bagian dari bumi, maka kita harus bertanggung jawab atas kelestariannya dan menjaga agar semakin layak dihuni. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau tidak ditempat kita, dimana lagi?" jelas isi Surat Gembala.
Selain itu, kerusakan lingkungan hidup sudah parah, tetapi tidak bolah patah semangat dan putus harapan.
" Di tengah-tengah kesuraman itu kita melihat tumbuhnya semangat persaudaraan dan rasa tanggung jawab social. Adanya gerakan penanaman pohon secara nasional, tumbuhnya kesadaran untuk mencintai kehidupan, dan alam serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yang menghendaki keselamatan seluruh ciptaanNya," kata para tokoh itu .
Upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup, baik lingkungan kecil maupun yang lebih luas harus diteruskan dan ditingkatkan kalau rakyat tidak menghendaki kehancuran menjadi lebih parah.
"Kita perlu mawas diri dan bertobat, berani bertindak sesederhana apapun yang berguna bagi penyelamatan bumi dari kehancuran. Semoga Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih memberkati kita semua yang peduli terhadap ciptaanNya," demikian isi Surat Gembala.
Dalam Surat Gembala yang diterima ANTARA di Pontianak, Kamis, para uskup menyatakan meningkatnya pencemaran air sungai, danau dan laut, tanah dan udara, pembakaran dan kebakaran hutan, pengurasan tambang secara rakus, pengalihan fungsi hutan rakyat dan lahan pertanian, penimbunan sampah di pemukiman padat penduduk, mengakibatkan kemerosotan mutu lingkungan hidup.
Surat Gembala yang dikeluarkan enam uskup di Kalimantan, termasuk salah satunya, Uskup Agung Pontianak, Mgr. H. Bumbun, OFM. Cap tersebut, mengutip pernyataan Paus Yohanes Paulus II, yang mengatakan krisis lingkungan hidup pada dasarnya adalah masalah moral.
Oleh sebab itu pertobatan adalah suatu keharusan. Wujudnya adalah memperlakukan bumi dan segala ciptaan secara bertanggung jawab, karena alam semesta diciptakan oleh Allah demi kemuliaan-Nya dan kesejahteraan manusia.
Para uskup se Kalimantan, terdiri atas Uskup Agung Pontianak Mgr H Bumbun, OFM. Cap, Uskup Agung Samarinda Mgr Fl Sului, MSF, Uskup Ketapang, Mgr Bl Pujaraharja, Uskup Palangkaraya Mgr A Sutrisnaatmaka, MSF, Uskup Banjarmasin Mgr F.X Prajasuta, MSF, Uskup Sanggau Mgr Y. Mencuccini, CP, Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus dan Uskup Tanjung Selor, Mgr Y. Harjosusanto, MSF.
Menurut mereka, pengrusakan dan kerusakan lingkungan hidup telah menjadi keprihatinan besar karena mengancam kelangsungan kehidupan di bumi ini.
Kemerosotan mutu lingkungan hidup mengakibatkan kekacauan musim, kekeringan, banjir dan tanah longsor, musnahnya berbagai jenis hewan dan tumbuhan, pemanasan bumi dan naiknya permukaan air laut, sehingga malapetaka ahsyat mengamcam umat manusia, yaitu kehancuran bumi.
Rusaknya lingkungan hidup di tingkat lokal berdampak pada tingkat nasional, internasional, bahkan global. Maka pelestarian dan peningkatan mutu lingkungan hidup di tingkat lokal, bukan hanya bermanfaat bagi kepentingan setempat, tetapi juga kepentingan yang lebih luas.
Menyikapi keadaan gawat itu, PBB telah berulang kali menyelenggarakan konperensi internasional. Baru-baru ini telah dilangsungkan pertemuan internasional tentang perubahan iklim yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007.
Setiap penghuni bumi ini harus menyadari betapa penting dan mendesaknya tindakan nyata untuk menyelamatkan bumi kita dari kehancuran.
Tak berdiri sendiri
Surat Gembala juga mengatakan, masalah lingkungan hidup tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan semua bidang kehidupan, seperti hukum, politik, ekonomi, social, budaya, mental dan moral.
Oleh karena itu masalah lingkungan hidup perlu dilihat dari berbagai sudut pandang dan ditangani secara serentak dan terpadu oleh semua pihak.
Kepedulian terhadap masalah lingkungan hidup merupakan suatu keharusan dan panggilan. Sikap acuh tak acuh terhadapnya merupakan kejahatan, karena mengabaikan keselamatan umat manusia.
Gereja yang dipanggil untuk meneruskan kebaikan dan kasih Allah kepada umat manusia sadar bahwa menyelamatkan umat manusia dari kehancuran bumi adalah pelaksanaan perintah cintakasih.
Dalam ensikliknya yang pertama, Redemptor Hominis Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup adalah bagian hakiki dari Ajaran Sosial Gereja.
Nota Pastoral KWI 2005, SGKI 2005 dan APP 2008 mendorong seluruh umat dan semua pihak untuk menghadapi masalah lingkungan hidup dengan tindakan nyata.
Kepedulian Gereja tidak terbatas pada imbauan dan arahan, tetapi juga dalam tindakan nyata dari gereja setempat.
Kemerosotan
Tertulis lebih lanjut dalam Surat Gembala tersebut, penyebab kemerosotan mutu lingkungan hidup itu serumit segala kenyataan hidup. Akan tetapi penyebab utamanya adalah mentalitas mengajar kenikmatan sepuas-puasnya dan memiliki sebanyak-banyaknya.
Mentalitas ini membuat orang tidak lagi mempedulikan Allah, kecuali dirinya sendiri, tidak lagi menghargai kehidupan dan menghalalkan segala cara.
Sikap dan gaya hidup ini tidak peduli terhadap keutuhan lingkungan hidup dan keharmonisan ciptaan. Tidak mau tahu bahwa bumi ini untuk semua manusia, termasuk generasi yang akan datang.
Mentalitas serakah dan rakus ini hanya memikirkan bagaimana meningkatkan taraf hidup dan mengabaikan mutu hidup. Keinginan meningkatkan taraf hidup tidak ada salahnya, menjadi salah bila mutu hidup dikorbankan demi taraf hidup dalam bidang ekonomi.
Karena itu, menurut para uskup lagi, masalah lingkungan hidup menuntut adanya tindakan nyata dari semua pihak. Pemerintah dan wakil rakyat harus berkiblat pada pelestarian alam. Menghormati kearifan local dan berpihak pada rakyat. Mengundang investor bukan hanya untuk peningkatan pendapatan daerah, melainkan juga sungguh untuk kesejahteraan rakyat.
Selain itu, para pengusaha harus menaati peraturan, mempedulikan hak dan kesejahteraan masyarakat setempat, menghentikan pembabatan hutan dan penambangan secara liar, dan menjaga lingkungan agar pencemaran air dan udara tidak berlanjut.
Sementara para penegak hukum, harus berani menindak tegas pengusaha yang tidak menaati peraturan dan merugikan masyarakat. Orang tua dan pendidik menanamkan nilai-nilai cinta kehidupan kepada anak-anak sejak dini baik di rumah maupun di sekolah.
" Kita masing-masing tidak dapat menghadapi masalah besar ini sendiri, namun demikian apa yang bisa kita dapat kerjakan harus kita mulai. Kita semua, tua-muda harus berani mengerjakan hal-hal yang sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan rumah dan kampung, menanam pohon dan tanaman hias, dan melestarikan hutan rakyat," katanya .
"Kita adalah bagian dari bumi, maka kita harus bertanggung jawab atas kelestariannya dan menjaga agar semakin layak dihuni. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau tidak ditempat kita, dimana lagi?" jelas isi Surat Gembala.
Selain itu, kerusakan lingkungan hidup sudah parah, tetapi tidak bolah patah semangat dan putus harapan.
" Di tengah-tengah kesuraman itu kita melihat tumbuhnya semangat persaudaraan dan rasa tanggung jawab social. Adanya gerakan penanaman pohon secara nasional, tumbuhnya kesadaran untuk mencintai kehidupan, dan alam serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yang menghendaki keselamatan seluruh ciptaanNya," kata para tokoh itu .
Upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup, baik lingkungan kecil maupun yang lebih luas harus diteruskan dan ditingkatkan kalau rakyat tidak menghendaki kehancuran menjadi lebih parah.
"Kita perlu mawas diri dan bertobat, berani bertindak sesederhana apapun yang berguna bagi penyelamatan bumi dari kehancuran. Semoga Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih memberkati kita semua yang peduli terhadap ciptaanNya," demikian isi Surat Gembala.
Selasa, 01 Januari 2008
WARGA PONTIANAK SAMBUT TAHUN BARU DENGAN BERBAGAI KEGIATAN
Pontianak, 1/1 (ANTARA) - Warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengadakan sejumlah kegiatan meski hujan rintik-rintik sempat turun saat detik-detik menjelang pergantian tahun dari 2007 ke 2008.
Kegiatan menyambut tibanya tahun 2008 tersebut, semisal kumpul bersama, pawai keliling kota, renungan di masjid, pesta kembang api dan "nongkrong" di warung-warung kopi, demikian ANTARA melaporkan, Selasa.
Kegiatan kumpul bersama seperti yang dilakukan oleh sejumlah karyawan perusahaan media yang menerbitkan Harian Borneo Tribune. Belasan karyawan perusahaan yang sudah beroperasi sejak tujuh bulan lalu itu, mengisi malam pergantian tahun dengan berkumpul di salah satu rumah di komplek Sakura Permai, kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Selain makan-makan, mereka menyambut kedatangan tahun 2008 dengan perenungan perjalanan perusahaan tersebut.
Hidangan semisal soto ceker ayam, makanan khas Jepang sabu-sabu, ikan pari bakar, dan tidak ketinggalan jagung bakar yang menjadi menu khas acara "Tahun Baruan".
Pemimpin Redaksi Borneo Tribune, Nur Iskandar dalam sambutannya mengajak karyawan perusahaan tetap bekerja keras di tahun 2008.
Sementara konsultan bisnis perusahaan tersebut Michael Yan Sriwidodo mengajak para karyawan untuk introspeksi diri mengenai apa yang akan dilakukan untuk pribadi masing-masing di tahun 2008 ini.
"Setelah untuk diri sendiri, apa yang akan kita perbuat untuk keluarga. Kemudian baru untuk perusahaan," katanya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalbar tersebut juga mengingatkan bahwa masing-masing orang yang ada di media itu memiliki talenta dan kemampuan yang dapat dikembangkan.
"Maka dari itu, untuk tahun 2008 masing-masing hendaknya dapat lebih maju lagi," katanya penuh harap.
Sementara hujan rintik-rintik membasahi tanah dan jalan-jalan ketika detik-detik menjelang akhir tahun berlangsung. Warga kota berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa tersebut tampak tidak terusik dari kegiatan menyambut tahun baru meski hujan.
Di tempat terpisah, iring-iringan kendaraan roda dua yang berpawai keliling kota sedang berlangsung hingga memasuki pukul 01.00 WIB. Pawai kendaraan bermotor terlihat di ruas Jalan Hasanuddin, kawasan Sungai Jawi. Kondisi yang sama juga berlangsung di Jalan H Rais A Rahman dan Ahmad Yani.
Penduduk yang bermukim di Sekitar Jalan H Rais A Rahman menyambut pergantian tahun dengan memainkan kembang api di gertak atau jembatan yang membentang di atas Sungai Jawi, sebuah anak Sungai Kapuas.
Sementara di taman Alun Kapuas, Jalan Rahadi Oesman, terdapat tumpukan sampah bekas plastik minuman mineral dan makanan ringan. Sisa dari tempat berkumpulnya ribuan warga yang "tumpah ruah" menyaksikan pentas malam tahun baru dan pesta kembang api yang diselenggarakan Pemerintah Kota Pontianak.
Di Masjid Raya Mujahidin, masjid terbesar di Kalbar, sejumlah orang bertafakur, melakukan perenungan. Kegiatan rutin tahunan itu belangsung khidmat.
Di tempat lain, sejumlah anak muda tampak "nongkrong" di warung-warung kopi. Warung kopi di pinggiran Jalan Gajah Mada dan Tanjungpura dipenuhi orang yang mengobrol sambil minum kopi. Hingga dinihari , sejumlah warung kopi masih melayani pembeli yang lelah seusai berpawai kendaraan.
Kegiatan menyambut tibanya tahun 2008 tersebut, semisal kumpul bersama, pawai keliling kota, renungan di masjid, pesta kembang api dan "nongkrong" di warung-warung kopi, demikian ANTARA melaporkan, Selasa.
Kegiatan kumpul bersama seperti yang dilakukan oleh sejumlah karyawan perusahaan media yang menerbitkan Harian Borneo Tribune. Belasan karyawan perusahaan yang sudah beroperasi sejak tujuh bulan lalu itu, mengisi malam pergantian tahun dengan berkumpul di salah satu rumah di komplek Sakura Permai, kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Selain makan-makan, mereka menyambut kedatangan tahun 2008 dengan perenungan perjalanan perusahaan tersebut.
Hidangan semisal soto ceker ayam, makanan khas Jepang sabu-sabu, ikan pari bakar, dan tidak ketinggalan jagung bakar yang menjadi menu khas acara "Tahun Baruan".
Pemimpin Redaksi Borneo Tribune, Nur Iskandar dalam sambutannya mengajak karyawan perusahaan tetap bekerja keras di tahun 2008.
Sementara konsultan bisnis perusahaan tersebut Michael Yan Sriwidodo mengajak para karyawan untuk introspeksi diri mengenai apa yang akan dilakukan untuk pribadi masing-masing di tahun 2008 ini.
"Setelah untuk diri sendiri, apa yang akan kita perbuat untuk keluarga. Kemudian baru untuk perusahaan," katanya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalbar tersebut juga mengingatkan bahwa masing-masing orang yang ada di media itu memiliki talenta dan kemampuan yang dapat dikembangkan.
"Maka dari itu, untuk tahun 2008 masing-masing hendaknya dapat lebih maju lagi," katanya penuh harap.
Sementara hujan rintik-rintik membasahi tanah dan jalan-jalan ketika detik-detik menjelang akhir tahun berlangsung. Warga kota berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa tersebut tampak tidak terusik dari kegiatan menyambut tahun baru meski hujan.
Di tempat terpisah, iring-iringan kendaraan roda dua yang berpawai keliling kota sedang berlangsung hingga memasuki pukul 01.00 WIB. Pawai kendaraan bermotor terlihat di ruas Jalan Hasanuddin, kawasan Sungai Jawi. Kondisi yang sama juga berlangsung di Jalan H Rais A Rahman dan Ahmad Yani.
Penduduk yang bermukim di Sekitar Jalan H Rais A Rahman menyambut pergantian tahun dengan memainkan kembang api di gertak atau jembatan yang membentang di atas Sungai Jawi, sebuah anak Sungai Kapuas.
Sementara di taman Alun Kapuas, Jalan Rahadi Oesman, terdapat tumpukan sampah bekas plastik minuman mineral dan makanan ringan. Sisa dari tempat berkumpulnya ribuan warga yang "tumpah ruah" menyaksikan pentas malam tahun baru dan pesta kembang api yang diselenggarakan Pemerintah Kota Pontianak.
Di Masjid Raya Mujahidin, masjid terbesar di Kalbar, sejumlah orang bertafakur, melakukan perenungan. Kegiatan rutin tahunan itu belangsung khidmat.
Di tempat lain, sejumlah anak muda tampak "nongkrong" di warung-warung kopi. Warung kopi di pinggiran Jalan Gajah Mada dan Tanjungpura dipenuhi orang yang mengobrol sambil minum kopi. Hingga dinihari , sejumlah warung kopi masih melayani pembeli yang lelah seusai berpawai kendaraan.
Senin, 31 Desember 2007
CATATAN AKHIR TAHUN KALBAR - MENYONGSONG GUBERNUR BARU KALBAR
Oleh Nurul Hayat
Pontianak, 30/12 (ANTARA) - 2007, merupakan tahun pesta demokrasi bagi rakyat Kalimantan Barat. Sebanyak 2,9 juta dari 4 juta lebih penduduk setempat melaksanakan pemilihan umum gubernur dan wakil gubernur. Pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya akhirnya terpilih sebagai gubernur periode 2008-2013.
Proses pelaksanaan Pemilu Gubernur telah dimulai sejak penjaringan bakal calon Juli. Kegiatan terus berlanjut hingga pelaksanaan hari "H" pemilihan, pemungutan suara 15 Nopember.
Sebanyak empat pasangan calon, tampil dalam pesta demokrasi model pemilihan gubernur langsung pertama kali bagi Kalbar tersebut. Pasangan calon datang dari berbagai bidang dan keahlian, semisal pengusaha, politisi, birokrat, dan aktivis pemberdayaan ekonomi. Mereka juga secara tak langsung mewakili tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.
Mereka adalah pasangan Usman Ja'far - Laurentius Herman Kadir, yang tak lain "incumbent" atau gubernur dan wakil gubernur periode 2003-2008. Oesman Sapta Odang - Ignatius Lyong, pengusaha yang juga mantan anggota MPR dengan birokrat yang jabatan terakhirnya sebagai Asisten I Sekretaris Daerah Kalbar.
Kemudian pasangan M Akil Mochtar - Anselmus Robertus Mecer, seorang politisi asal Partai Golkar, anggota DPR RI dua periode. Akil berpasangan dengan aktivis pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga mantan dosen di Universitas Tanjungpura.
Pasangan terakhir, Cornelis-Christiandy Sanjaya, duet seorang Bupati dari Landak dengan kepala sekolah dari Sekolah Menengah Kejuruan Imanuel Pontianak.
Pasangan calon tersebut diusung oleh partai-partai yang ada. Pasangan UJ-LHK diusung partai besar seperti Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, PKS, PBR, Partai Merdeka dan PDS dengan menyandang nama koalisi, "Koalisi Harmoni" dengan 52,39 persen suara dukungan.
OSO-Lyong diusung Partai Demokrat, PPD, Partai Patriot Pancasila, PNI Marhaenisme, PBSD, PPIB dan PKPB dengan nama "Koalisi Kalbar Maju, Adil dan Sejahtera" dengan 15,45 persen suara dukungan.
Kemudian pasangan Akil-Mecer yang berjuluk Pasangan AR, diusung oleh Partai Pelopor, PBB, PPDK, PNBK, PKPI, PPDI dan PSI, berkoalisi dalam "Koalisi Rakyat Kalbar Bersatu" dan mendapat 15,08 persen suara dukungan. Serta pasangan CC, yang diusung satu partai saja, PDI Perjuangan dengan dukungan suara 17,07 persen.
Data dari KPU tingkat kabupaten/kota mengenai jumlah pemilih untuk Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur periode 2008-2013 sebanyak 2.925.018 orang. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 9.654 unit.
Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalbar, Aida Mokhtar, biaya pelaksanaan pemilu gubernur tersebut mencapai Rp67 miliar. "Namun belasan miliar lebih dana untuk kabupaten/kota sebagai pelaksana langsung pemilu," katanya.
Cornelis- Christiandy
Rapat pleno terbuka yang dipimpin Ketua KPU Aida Mokhtar 27 Nopember yang kemudian dituang dalam Berita Acara Nomor 21/BA/KPU/KB/XI/2007, menetapkan Cornelis-Christiandy Sanjaya, sebagai pasangan gubernur terpilih periode 2008-2013.
Pasangan bupati-guru tersebut, memeroleh suara 930.679 pemilih atau 43,67 persen, mengungguli tiga pasangan calon lain, pasangan "incumbent" dengan perolehan suara 659.279 pemilih (30,94 persen), Oesman Sapta-Lyong 335.368 pemilih (15,71 persen) dan Akil-Mecer 205.763 pemilih (9,66 persen) dari total suara sah 2.131.089 pemilih.
Cornelis-Christiandy kini menunggu Surat Keputusan Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur 2008-2013 pada 14 Januari 2008.
Cornelis yang kelahiran Sanggau (Kabupaten Sanggau) 27 Juli 1953 dan Christiandy Sanjaya, kelahiran Singkawang (Kota Singkawang) 29 Maret 1964, menang di delapan dari 14 kabupaten/kota. Delapan kabupaten tersebut meliputi, Landak, Sanggau, Sintang, Sekadau, Melawi, Kapuas Hulu, Bengkayang dan Kota Singkawang.
Kemenangan pasangan ini, menunjukkan bahwa calon dari daerah pun dapat bersaing maju dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur dan berhadapan dengan incumbent, calon dari tingkat nasional semisal DPR dan calon dengan dana kampanye besar.
Terlepas dari adanya politisasi agama dan etnis (aliran) saat kampanye berlangsung hingga masa tenang, oleh pendukung dan simpatisan para calon gubernur, namun duet Cornelis-Christiandy Sanjaya, yang pada akhirnya menjadi pilihan rakyat.
Cornelis yang ditemui beberapa waktu lalu, menyatakan kemenangan dalam pemilihan gubernur itu hendaknya tidak dianggap sebagai kemenangan partai pengusung (PDI Perjuangan), tetapi secara hakiki merupakan kemenangan dan kehendak rakyat. "Peran Tuhan sangat banyak. Ini suatu mukjizat dari Jubata (Tuhan)," kata Bupati dua periode, 2001-2006 dan 2006-2011 itu.
Cornelis-Christiandy memiliki visi pembangunan masyarakat Kalbar yang cerdas, sehat dan sejahtera. Untuk mewujudkannya, di antaranya dengan peningkatan dana pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Cornelis menegaskan pada masa kepemimpinannya, dana pendidikan 20 persen dapat terwujud setelah gaji pegawai aman, artinya tidak kekurangan. Ia juga menyatakan akan melobi Pemerintah di Jakarta agar mendapatkan jatah penambahan guru, guna mempersiapkan guru pengganti bagi yang memasuki masa pensiun.
Pembangunan sekolah juga akan sesuai standar, sehingga kualitas sekolah di kota dan desa tetap sama dan mampu bersaing. Pengadaan tenaga guru dengan memprioritaskan sekolah di pedalaman. Tunjangan khusus tenaga pengajar di pedalaman dan pengangkatan tenaga guru berasal dari daerah setempat yang memenuhi syarat akan menjadi perhatian serius.
Pasangan ini, juga akan membuka peluang kepada masyarakat Kalbar yang kaya untuk ikut berperan aktif dalam membangun daerah. "Silakan saja membangun agar kita tidak kekurangan 'duit'," kata Cornelis.
Bagi Cornelis yang sudah hampir 30 tahun mengabdikan diri kepada pemerintah sebagai pegawai negeri sipil, seorang pemimpin semestinya dapat memberikan pelayanan dasar sebuah negara sesuai perundang-undangan. Pelayanan meliputi pendidikan, kesehatan, dan mengatasi kemiskinan, menolong fakir miskin.
Pelayanan tersebut tentu saja telah ditunggu 4 juta jiwa penduduk yang tinggal di wilayah seluas 146.807 kilometer persegi ini.
Dukungan kandidat
Mahmud Akil dalam "Fenomena Etnisitas di Kalimantan Barat", pada buku Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi, 1994 berkata, "Orang bisa berbeda paham, karena adanya persaingan di bidang ekonomi, politik, maupun sosial budaya, dan ditambah lagi adanya unsur primordialisme yang sering dikembangkan masing-masing pihak."
Akan tetapi dengan adanya saling ketergantungan masing-masing pihak itu dalam bidang yang sama, terjadi pula adanya kerja sama. Kerjasama akan semakin erat jika masing-masing pihak mempunyai visi yang sama tentang bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Agaknya, pernyataan tersebut terjawab ketika Cornelis-Christiandy Sanjaya terpilih.
Karena ketiga pasangan lainnya, menyatakan memberikan dukungan bagi langkah pasangan ini untuk membangun Kalbar menjadi lebih baik dan maju dalam lima tahun ke depan.
Usman Ja'far, yang juga gubernur periode 2003-2008, secara jelas dalam debat kandidat di sebuah hotel di Pontianak 11 Nopember, menegaskan siap mendukung siapa pun yang terpilih menjadi gubernur.
Sementara Oesman Sapta dan Akil Mochtar, dalam kesempatan terpisah juga menegaskan hal yang sama.
Dalam wawancara 18 Desember, Oesman Sapta menyatakan mendukung sepenuhnya kepemimpinan pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya. Mantan anggota MPR itu juga menyatakan rasa salutnya kepada pasangan tersebut karena bisa mengalahkan mantan anggota MPR, anggota DPR dan gubernur yang masih menjabat.
"Ini yang menang anak daerah, putra daerah, kenapa mesti dipersoalkan? Tumbuhkan sportivitas," tegasnya.
Pengusaha dengan modal kampanye terbesar dari tiga pasangan calon lainnya itu, mengakui secara tulus ikhlas menerima kekalahan. "Selama ini saya tidak pernah mengukur. Betulkah rakyat Kalbar mendukung saya? Ternyata benar, rakyat mendukung saya," kata Oso yang memeroleh suara terbanyak di kampung halamannya, Kabupaten Ketapang (dan Kayong Utara).
Bagaimana dengan Akil Mochtar, setelah yakin kalah pada hari kedua setelah pemungutan suara?
"Kita berharap pemimpin yang baru membangun kualitas (masyarakat) Kalbar. Rakyat kita masih miskin, pengangguran di mana-mana," katanya.
Lebih lanjut ia menyatakan, "Kita mempunyai tanggung jawab moral yang sama, membangun Kalbar."
Cornelis, bukanlah orang baru di kancah perpolitikan Kalbar. Ia juga merupakan Ketua Dewan Pengurus Daerah PDI Perjuangan Kalbar. Dalam Pemilihan Umum Presiden 2004, khusus Kalbar, PDI Perjuangan unggul tipis dari Partai Golkar.
Sementara Christiandy Sanjaya yang dikenal sebagai seorang pendidik, adalah pasangan yang tepat bagi Cornelis.
Hal itu pernah diakui putra Dayak Sanggau itu dalam pernyataannya. "Dalam pemilihan, bukan hati nurani, tetapi tingkat rasionalitas yang tinggi," kata Cornelis menjelaskan alasan memilih berpasangan dengan Christiandy, sebagai seorang yang profesional di bidang pendidikan dan ekonomi.
Christiandy, selain sebagai pendidik, pernah pula terjun ke kancah politik lokal, sebagai anggota DPRD Kota Pontianak pada 1989-2004.
Kini, menyongsong 2008, pasangan ini siap melangkah membangun Kalbar. Harapan besar tertumpu kepada keduanya, membangun masyarakat Kalimantan Barat yang cerdas, sehat dan sejahtera. Selamat bertugas gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013.
Pontianak, 30/12 (ANTARA) - 2007, merupakan tahun pesta demokrasi bagi rakyat Kalimantan Barat. Sebanyak 2,9 juta dari 4 juta lebih penduduk setempat melaksanakan pemilihan umum gubernur dan wakil gubernur. Pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya akhirnya terpilih sebagai gubernur periode 2008-2013.
Proses pelaksanaan Pemilu Gubernur telah dimulai sejak penjaringan bakal calon Juli. Kegiatan terus berlanjut hingga pelaksanaan hari "H" pemilihan, pemungutan suara 15 Nopember.
Sebanyak empat pasangan calon, tampil dalam pesta demokrasi model pemilihan gubernur langsung pertama kali bagi Kalbar tersebut. Pasangan calon datang dari berbagai bidang dan keahlian, semisal pengusaha, politisi, birokrat, dan aktivis pemberdayaan ekonomi. Mereka juga secara tak langsung mewakili tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.
Mereka adalah pasangan Usman Ja'far - Laurentius Herman Kadir, yang tak lain "incumbent" atau gubernur dan wakil gubernur periode 2003-2008. Oesman Sapta Odang - Ignatius Lyong, pengusaha yang juga mantan anggota MPR dengan birokrat yang jabatan terakhirnya sebagai Asisten I Sekretaris Daerah Kalbar.
Kemudian pasangan M Akil Mochtar - Anselmus Robertus Mecer, seorang politisi asal Partai Golkar, anggota DPR RI dua periode. Akil berpasangan dengan aktivis pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga mantan dosen di Universitas Tanjungpura.
Pasangan terakhir, Cornelis-Christiandy Sanjaya, duet seorang Bupati dari Landak dengan kepala sekolah dari Sekolah Menengah Kejuruan Imanuel Pontianak.
Pasangan calon tersebut diusung oleh partai-partai yang ada. Pasangan UJ-LHK diusung partai besar seperti Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, PKS, PBR, Partai Merdeka dan PDS dengan menyandang nama koalisi, "Koalisi Harmoni" dengan 52,39 persen suara dukungan.
OSO-Lyong diusung Partai Demokrat, PPD, Partai Patriot Pancasila, PNI Marhaenisme, PBSD, PPIB dan PKPB dengan nama "Koalisi Kalbar Maju, Adil dan Sejahtera" dengan 15,45 persen suara dukungan.
Kemudian pasangan Akil-Mecer yang berjuluk Pasangan AR, diusung oleh Partai Pelopor, PBB, PPDK, PNBK, PKPI, PPDI dan PSI, berkoalisi dalam "Koalisi Rakyat Kalbar Bersatu" dan mendapat 15,08 persen suara dukungan. Serta pasangan CC, yang diusung satu partai saja, PDI Perjuangan dengan dukungan suara 17,07 persen.
Data dari KPU tingkat kabupaten/kota mengenai jumlah pemilih untuk Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur periode 2008-2013 sebanyak 2.925.018 orang. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 9.654 unit.
Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalbar, Aida Mokhtar, biaya pelaksanaan pemilu gubernur tersebut mencapai Rp67 miliar. "Namun belasan miliar lebih dana untuk kabupaten/kota sebagai pelaksana langsung pemilu," katanya.
Cornelis- Christiandy
Rapat pleno terbuka yang dipimpin Ketua KPU Aida Mokhtar 27 Nopember yang kemudian dituang dalam Berita Acara Nomor 21/BA/KPU/KB/XI/2007, menetapkan Cornelis-Christiandy Sanjaya, sebagai pasangan gubernur terpilih periode 2008-2013.
Pasangan bupati-guru tersebut, memeroleh suara 930.679 pemilih atau 43,67 persen, mengungguli tiga pasangan calon lain, pasangan "incumbent" dengan perolehan suara 659.279 pemilih (30,94 persen), Oesman Sapta-Lyong 335.368 pemilih (15,71 persen) dan Akil-Mecer 205.763 pemilih (9,66 persen) dari total suara sah 2.131.089 pemilih.
Cornelis-Christiandy kini menunggu Surat Keputusan Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur 2008-2013 pada 14 Januari 2008.
Cornelis yang kelahiran Sanggau (Kabupaten Sanggau) 27 Juli 1953 dan Christiandy Sanjaya, kelahiran Singkawang (Kota Singkawang) 29 Maret 1964, menang di delapan dari 14 kabupaten/kota. Delapan kabupaten tersebut meliputi, Landak, Sanggau, Sintang, Sekadau, Melawi, Kapuas Hulu, Bengkayang dan Kota Singkawang.
Kemenangan pasangan ini, menunjukkan bahwa calon dari daerah pun dapat bersaing maju dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur dan berhadapan dengan incumbent, calon dari tingkat nasional semisal DPR dan calon dengan dana kampanye besar.
Terlepas dari adanya politisasi agama dan etnis (aliran) saat kampanye berlangsung hingga masa tenang, oleh pendukung dan simpatisan para calon gubernur, namun duet Cornelis-Christiandy Sanjaya, yang pada akhirnya menjadi pilihan rakyat.
Cornelis yang ditemui beberapa waktu lalu, menyatakan kemenangan dalam pemilihan gubernur itu hendaknya tidak dianggap sebagai kemenangan partai pengusung (PDI Perjuangan), tetapi secara hakiki merupakan kemenangan dan kehendak rakyat. "Peran Tuhan sangat banyak. Ini suatu mukjizat dari Jubata (Tuhan)," kata Bupati dua periode, 2001-2006 dan 2006-2011 itu.
Cornelis-Christiandy memiliki visi pembangunan masyarakat Kalbar yang cerdas, sehat dan sejahtera. Untuk mewujudkannya, di antaranya dengan peningkatan dana pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Cornelis menegaskan pada masa kepemimpinannya, dana pendidikan 20 persen dapat terwujud setelah gaji pegawai aman, artinya tidak kekurangan. Ia juga menyatakan akan melobi Pemerintah di Jakarta agar mendapatkan jatah penambahan guru, guna mempersiapkan guru pengganti bagi yang memasuki masa pensiun.
Pembangunan sekolah juga akan sesuai standar, sehingga kualitas sekolah di kota dan desa tetap sama dan mampu bersaing. Pengadaan tenaga guru dengan memprioritaskan sekolah di pedalaman. Tunjangan khusus tenaga pengajar di pedalaman dan pengangkatan tenaga guru berasal dari daerah setempat yang memenuhi syarat akan menjadi perhatian serius.
Pasangan ini, juga akan membuka peluang kepada masyarakat Kalbar yang kaya untuk ikut berperan aktif dalam membangun daerah. "Silakan saja membangun agar kita tidak kekurangan 'duit'," kata Cornelis.
Bagi Cornelis yang sudah hampir 30 tahun mengabdikan diri kepada pemerintah sebagai pegawai negeri sipil, seorang pemimpin semestinya dapat memberikan pelayanan dasar sebuah negara sesuai perundang-undangan. Pelayanan meliputi pendidikan, kesehatan, dan mengatasi kemiskinan, menolong fakir miskin.
Pelayanan tersebut tentu saja telah ditunggu 4 juta jiwa penduduk yang tinggal di wilayah seluas 146.807 kilometer persegi ini.
Dukungan kandidat
Mahmud Akil dalam "Fenomena Etnisitas di Kalimantan Barat", pada buku Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi, 1994 berkata, "Orang bisa berbeda paham, karena adanya persaingan di bidang ekonomi, politik, maupun sosial budaya, dan ditambah lagi adanya unsur primordialisme yang sering dikembangkan masing-masing pihak."
Akan tetapi dengan adanya saling ketergantungan masing-masing pihak itu dalam bidang yang sama, terjadi pula adanya kerja sama. Kerjasama akan semakin erat jika masing-masing pihak mempunyai visi yang sama tentang bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Agaknya, pernyataan tersebut terjawab ketika Cornelis-Christiandy Sanjaya terpilih.
Karena ketiga pasangan lainnya, menyatakan memberikan dukungan bagi langkah pasangan ini untuk membangun Kalbar menjadi lebih baik dan maju dalam lima tahun ke depan.
Usman Ja'far, yang juga gubernur periode 2003-2008, secara jelas dalam debat kandidat di sebuah hotel di Pontianak 11 Nopember, menegaskan siap mendukung siapa pun yang terpilih menjadi gubernur.
Sementara Oesman Sapta dan Akil Mochtar, dalam kesempatan terpisah juga menegaskan hal yang sama.
Dalam wawancara 18 Desember, Oesman Sapta menyatakan mendukung sepenuhnya kepemimpinan pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya. Mantan anggota MPR itu juga menyatakan rasa salutnya kepada pasangan tersebut karena bisa mengalahkan mantan anggota MPR, anggota DPR dan gubernur yang masih menjabat.
"Ini yang menang anak daerah, putra daerah, kenapa mesti dipersoalkan? Tumbuhkan sportivitas," tegasnya.
Pengusaha dengan modal kampanye terbesar dari tiga pasangan calon lainnya itu, mengakui secara tulus ikhlas menerima kekalahan. "Selama ini saya tidak pernah mengukur. Betulkah rakyat Kalbar mendukung saya? Ternyata benar, rakyat mendukung saya," kata Oso yang memeroleh suara terbanyak di kampung halamannya, Kabupaten Ketapang (dan Kayong Utara).
Bagaimana dengan Akil Mochtar, setelah yakin kalah pada hari kedua setelah pemungutan suara?
"Kita berharap pemimpin yang baru membangun kualitas (masyarakat) Kalbar. Rakyat kita masih miskin, pengangguran di mana-mana," katanya.
Lebih lanjut ia menyatakan, "Kita mempunyai tanggung jawab moral yang sama, membangun Kalbar."
Cornelis, bukanlah orang baru di kancah perpolitikan Kalbar. Ia juga merupakan Ketua Dewan Pengurus Daerah PDI Perjuangan Kalbar. Dalam Pemilihan Umum Presiden 2004, khusus Kalbar, PDI Perjuangan unggul tipis dari Partai Golkar.
Sementara Christiandy Sanjaya yang dikenal sebagai seorang pendidik, adalah pasangan yang tepat bagi Cornelis.
Hal itu pernah diakui putra Dayak Sanggau itu dalam pernyataannya. "Dalam pemilihan, bukan hati nurani, tetapi tingkat rasionalitas yang tinggi," kata Cornelis menjelaskan alasan memilih berpasangan dengan Christiandy, sebagai seorang yang profesional di bidang pendidikan dan ekonomi.
Christiandy, selain sebagai pendidik, pernah pula terjun ke kancah politik lokal, sebagai anggota DPRD Kota Pontianak pada 1989-2004.
Kini, menyongsong 2008, pasangan ini siap melangkah membangun Kalbar. Harapan besar tertumpu kepada keduanya, membangun masyarakat Kalimantan Barat yang cerdas, sehat dan sejahtera. Selamat bertugas gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013.
Jumat, 21 Desember 2007
OBITUARI ASPAR ASWIN Oleh Nurul Hayat
Pontianak, 21/12 (ANTARA) - Husna Sabri sangat sedih. Ada duka. Ia baru saja kehilangan bekas atasan yang juga ayah baginya, Mayjen (Purn) H Aspar Aswin.
Aspar Aswin, mantan Gubernur Kalbar 1993-2003 yang lahir di Samarinda 13 April 1940, meninggal dunia dalam usia 67 tahun di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak, Rabu (19/12) pukul 02:10 WIB.
Rabu siang, Husna mondar-mandir di bandara Supadio mengurusi pemberangkatan jenazah menuju bandara Adisutjipto, Yogyakarta, untuk dikebumikan di pemakaman keluarga Gandokan, Kecamatan Kerangganan, Temanggung, Jateng.
Jenazah Aswin sudah berada di ruang tunggu VIP bandara Supadio, dijaga dua prajurit bersenjata.
Husna sempat bingung mencari pesawat yang bersedia memberangkatkan jenazah. Ada pimpinan maskapai penerbangan yang dihubungi. Pimpinan maskapai bersedia membawa jenazah menuju tempat tujuan.
"Tetapi harus membayar sewa dimuka. Bagaimana mau mencari uang hari begini?" katanya setengah bertanya. Ia bingung. Hari itu merupakan hari terakhir kerja menjelang cuti bersama. Untuk mendapatkan uang senilai Rp120 juta bukan perkara mudah.
"Untung ada yang membantu jenazah bisa diangkut pesawat sewaan," katanya.
Namun kecemasan Husna belum berakhir. Ia mesti memastikan dirinya bisa ikut serta dalam rombongan pengantar jenazah ke pemakaman, mengingat kapasitas angkut penumpang pesawat terbatas.
Keinginan mengantar jenazah sampai peristirahatan terakhir, menjadi harapan Husna, mantan ajudan Aswin. Husna menjadi ajudan selama 1995-2003.
Orang mengenal Husna dan Aspar Aswin bukan hanya sebatas pimpinan dan bawahan tetapi juga hubungan layaknya bapak dan anak.
Bagi Husna, sebagai atasan, Aspar Aswin adalah pimpinan yang tegas dan penuh kesederhanaan, sedangkan sebagai "ayah", Aspar Aswin adalah figur yang tenang dan penuh perhatian.
"Suasana yang tidak enak jika sedang berada di dalam mobil, bapak hanya diam. Itu tandanya sedang marah dengan seseorang," kata Husna, pria berusia 40-an tahun yang kini staf Dinas Pendapatan Daerah Kalbar.
Sedangkan hal yang menyenangkan ketika Aswin bertanya soal uang saku.
Kini, orang yang dianggapnya sebagai orangtua, telah meninggal dunia. Husna begitu kehilangan.
Terjatuh dan kelelahan
Menurut putra bungsu almarhum, Rico Andri Setyadi (34), sebelum dibawa ke rumah sakit, Aspar Aswin terjatuh di ruang tengah kediamannya di Jalan Akcaya III, Pontianak.
Hanya satu jam di ruang ICU, ayah tiga anak dan kakek lima cucu itu pun menghembuskan napas terakhir.
Selasa malam, Aspar Aswin menemani istrinya yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) utusan Kalbar, Hj Sri Kadarwati menghadiri pertemuan dengan Pengurus Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) hingga tengah malam.
Menjelang tidur, Aswin terjatuh di ruang tengah rumah. Aspar Aswin segera dilarikan ke rumah sakit. Pada pukul 02.10 WIB, ia meninggal.
Rico mengaku tidak menemukan kejanggalan menjelang wafatnya Aswin.
Pertemuan terakhir keduanya terjadi pada Sabtu (15/12) ketika mengantar ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang menuju Pontianak.
"Ketika itu, bapak sedang flu. Dalam hati kecil saya, berat melepaskan keberangkatan bapak," kata Rico.
Aspar Aswin memiliki riwayat penyakit diabetes melitus. Ia selalu minum obat untuk menetralkan kadar gula darahnya jika sedang meninggi.
Selain takdir, faktor lain yang menyebabkan kepergian Aspar Aswin adalah kelelahan. Enam bulan terakhir ini, Aswin sering bolak-balik Jakarta-Pontianak untuk urusan partai.
Aspar Aswin adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Kalbar. Di tingkat pusat, partai baru itu dipimpin mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto.
Sehari di Pontianak, Aswin terbang ke Kota Ketapang guna mengukuhkan pimpinan anak cabang Partai Hanura. Rencananya, setelah Iduladha, ia bakal mengukuhkan pengurus partai di lima kecamatan di Pontianak, tetapi ajal lebih dahulu menjelang.
"Bapak kecapekan," kata Rico.
Motivator
Seorang pengurus DPD Partai Hanura Kalbar, Baisuni, mengaku mengenal Aspar Aswin sejak muda.
"Ia seorang motivator, inisiator, dan pemimpin yang berjiwa merakyat," kata Baisuni, mantan Bupati Kabupaten Sanggau, 1988-1998.
Ketika Aspar Aswin menjabat sebagai Komandan Korem 121/ABW, Baisuni menjabat sebagai Kepala Seksi Intel Korem. Hubungan baik keduanya berlanjut hingga bergabung dalam partai politik.
Selain memiliki figur yang disebutkan Baisuni, Aspar Aswin juga diakui cukup berwibawa, sederhana, dekat dengan bawahan dan menguasai bidangnya.
Asisten I Sekretaris Daerah Kalbar, Mahfud Suhendro, mengisahkan kejadian dalam acara makan di sebuah hotel di Jakarta bersama sejumlah pejabat Kalbar.
Ketika itu, para pejabat memesan masakan Italia seperti spaghetti dan pizza agar tidak terlihat "sepok"(kuno), tetapi Aswin malah memesan nasi timbel.
"Para pejabat menjadi malu," katanya.
Suhendro menambahkan, saat bekerja Aswin sering lupa waktu untuk istirahat makan. Lupa makan tampaknya juga menjadi salah satu yang melatarbelakangi kepergian Aswin.
Ketika mendampingi sang istri pada acara FKPPI, beberapa jam sebelum meninggal dunia, Aspar Aswin belum makan malam. Ia baru makan bubur pada pukul 23:00 WIB sepulang dari pertemuan tersebut.
Kebiasaan telat makan itu sejak lama dilakukan Aspar Aswin.
Riwayat jabatan
Semasa hidupnya, Aspar Aswin mengawali rangkaian riwayat jabatannya pasca lulus Akademi Militer Nasional (AMN) 1963.
Di institusi militer ia mengawali karir sebagai Komandan Peleton Yonif 314 Linud Siliwangi di Majalengka, Jabar, 1964. Kemudian menjadi Wakil Komandan Kompi Yonif 330/SLW, Komandan kompi Yonif 330/SLW, dan PASI-2 Yonif 330/SLW pada 1971.
Kemudian ditempatkan di Brigade 17 Kostrad Bandung, lalu di Resimen Induk Kodam (Rindam) I Kutaraja, Nanggro Aceh Darussalam sebagai Kepala Litbang Rindam pada 1973, kemudian sebagai Kepala Pendidikan dan Latihan di Rindam itu.
Berpangkat Mayor, Aspar Aswin tahun 1975 menjabat Komandan Yonif 113/DAM I Kotabakti-Aceh.
Beragam jabatan lain yang pernah didudukinya adalah menduduki jabatan Komandan Kodim (Dandim) 0108/Dam I Kutacane, Kepala Staf Korem (Kasrem) 121/Alambhana Wanawwai Sintang, Kalbar, asisten operasi Kepala Staf Kodam (Kasdam) VII Tanjungpura di Pontianak.
Aspar Aswin dinilai berhasil di Kalbar sehingga dipromosikan sebagai Komandan Rinifdam IX Udayana di Tabanan, Bali, 1985-1986. Dari Bali kemudian kembali bertugas ke Kalbar sebagan Danrem 121/ABW pada 1986-1989. Setelah berakhir masa tugas, Aspar Aswin diangkat sebagai Wakil Komandan Puspansisops di Cimahi, Jabar.
Belum setahun bertugas di Cimahi, Aspar Aswin mendapat kehormatan meniti karir di jabatan sipil sebagai Wakil Gubernur Bali, dengan pangkat Jenderal berbintang satu.
Bekal pengalaman yang dimilikinya, maka pada 1993 terpilih sebagai Gubernur Kalbar periode 1993-1998. Pengangkatan berdasarkan Keppres nomor 13/M/1993 tanggal 13 Januari 1993. Kemudian terpilih kembali sebagai gubernur Kalbar periode 1998-2003, berdasarkan Keppres RI No 2/M/1998 tanggal 9 Januari 1998.
Aspar Aswin merupakan gubernur ketujuh Kalbar atau gubernur kedua yang menjabat selama dua periode setelah Sujiman.
"Dia memang berjiwa pemimpin," kata H Djawari, mantan wakil gubernur era Aspar Aswin.
Bintang jasa dan penghargaan yang pernah diterima, Satya Lencana Penegak (1966), Satya Lencana GOM-VIII (1968), Satya Lencana GOm-VIII (1983), Satya Lencana VIII TH (1973), Satya Lencana XVI TH (1981), Satya Lencana XXIV TH (1989).
Kemudian, Darjah Kebesaran Kepahlawanan Angkatan Tentara Malaysia, Yudha Dharma Nararya (1996), Kartika Eka Paksi Pratama (1996), Satya Lencana Pembangunan Bidang Pertanian (1996), Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi (!996), Satya Lencana Kebaktian Sosial (1996), Manggala Karya Kencana KL I A (1997), Lencana Melati (1997), Satya Lencana Abdi Satya Bhakti (1997), dan Abdimanggalya Karya (1997).
Aspar Aswin (anak pasangan Aswin dan Tuminah) menikah dengan Sri Kadarwati pada 17 Juli 1966. Wanita yang dinikahinya itu lahiran Muntilan tahun 1947.
Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga putra, Setya Dewi, Dony Satryadi, dan Rico Andri Setyadi. Dari anak-anak mereka, Aspar Aswin dikaruniai lima cucu.
Pelepasan jenazah berlangsung secara militer, dengan Komandan upacara, Gubernur Kalbar 2003-2008 Usman Ja'far.
Ribuan orang handai taulan, mulai dari pejabat pemprov Kalbar, para karyawan/staf, anggota DPRD, tokoh masyarakat, ulama, pejabat militer, wartawan, tetangga, dll, mendatangi kediaman pribadi yang biasanya tampak lengang tersebut.
Jenazah kemudian dibawa ke Masjid Raya Mujahidin, pada pukul 10.00 WIB untuk disalatkan. Setelah itu, langsung berangkat menggunakan ambulance Rumah Sakit Umum Dr Soedarso Pontianak, menuju ke bandara Supadio.
Menurut Rico, jenazah dibawa ke Temanggung karena semasa hidup, pernah menyatakan ingin istirahat penuh di tempat tinggal keluarga besar istrinya.
Diantara pengantar jenazah yang menaiki tangga pesawat tampak Husna Sabri masuk ke dalam burung besi berkapasitas 10 penumpang itu. Senyum tersungging di wajah Husna. Keinginannya mengantar jenazah hingga liang lahat tercapai.
"Selamat jalan Pak Aswin, jasamu dikenang masyarakat Kalbar" (T.N005/
Aspar Aswin, mantan Gubernur Kalbar 1993-2003 yang lahir di Samarinda 13 April 1940, meninggal dunia dalam usia 67 tahun di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak, Rabu (19/12) pukul 02:10 WIB.
Rabu siang, Husna mondar-mandir di bandara Supadio mengurusi pemberangkatan jenazah menuju bandara Adisutjipto, Yogyakarta, untuk dikebumikan di pemakaman keluarga Gandokan, Kecamatan Kerangganan, Temanggung, Jateng.
Jenazah Aswin sudah berada di ruang tunggu VIP bandara Supadio, dijaga dua prajurit bersenjata.
Husna sempat bingung mencari pesawat yang bersedia memberangkatkan jenazah. Ada pimpinan maskapai penerbangan yang dihubungi. Pimpinan maskapai bersedia membawa jenazah menuju tempat tujuan.
"Tetapi harus membayar sewa dimuka. Bagaimana mau mencari uang hari begini?" katanya setengah bertanya. Ia bingung. Hari itu merupakan hari terakhir kerja menjelang cuti bersama. Untuk mendapatkan uang senilai Rp120 juta bukan perkara mudah.
"Untung ada yang membantu jenazah bisa diangkut pesawat sewaan," katanya.
Namun kecemasan Husna belum berakhir. Ia mesti memastikan dirinya bisa ikut serta dalam rombongan pengantar jenazah ke pemakaman, mengingat kapasitas angkut penumpang pesawat terbatas.
Keinginan mengantar jenazah sampai peristirahatan terakhir, menjadi harapan Husna, mantan ajudan Aswin. Husna menjadi ajudan selama 1995-2003.
Orang mengenal Husna dan Aspar Aswin bukan hanya sebatas pimpinan dan bawahan tetapi juga hubungan layaknya bapak dan anak.
Bagi Husna, sebagai atasan, Aspar Aswin adalah pimpinan yang tegas dan penuh kesederhanaan, sedangkan sebagai "ayah", Aspar Aswin adalah figur yang tenang dan penuh perhatian.
"Suasana yang tidak enak jika sedang berada di dalam mobil, bapak hanya diam. Itu tandanya sedang marah dengan seseorang," kata Husna, pria berusia 40-an tahun yang kini staf Dinas Pendapatan Daerah Kalbar.
Sedangkan hal yang menyenangkan ketika Aswin bertanya soal uang saku.
Kini, orang yang dianggapnya sebagai orangtua, telah meninggal dunia. Husna begitu kehilangan.
Terjatuh dan kelelahan
Menurut putra bungsu almarhum, Rico Andri Setyadi (34), sebelum dibawa ke rumah sakit, Aspar Aswin terjatuh di ruang tengah kediamannya di Jalan Akcaya III, Pontianak.
Hanya satu jam di ruang ICU, ayah tiga anak dan kakek lima cucu itu pun menghembuskan napas terakhir.
Selasa malam, Aspar Aswin menemani istrinya yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) utusan Kalbar, Hj Sri Kadarwati menghadiri pertemuan dengan Pengurus Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) hingga tengah malam.
Menjelang tidur, Aswin terjatuh di ruang tengah rumah. Aspar Aswin segera dilarikan ke rumah sakit. Pada pukul 02.10 WIB, ia meninggal.
Rico mengaku tidak menemukan kejanggalan menjelang wafatnya Aswin.
Pertemuan terakhir keduanya terjadi pada Sabtu (15/12) ketika mengantar ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang menuju Pontianak.
"Ketika itu, bapak sedang flu. Dalam hati kecil saya, berat melepaskan keberangkatan bapak," kata Rico.
Aspar Aswin memiliki riwayat penyakit diabetes melitus. Ia selalu minum obat untuk menetralkan kadar gula darahnya jika sedang meninggi.
Selain takdir, faktor lain yang menyebabkan kepergian Aspar Aswin adalah kelelahan. Enam bulan terakhir ini, Aswin sering bolak-balik Jakarta-Pontianak untuk urusan partai.
Aspar Aswin adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Kalbar. Di tingkat pusat, partai baru itu dipimpin mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto.
Sehari di Pontianak, Aswin terbang ke Kota Ketapang guna mengukuhkan pimpinan anak cabang Partai Hanura. Rencananya, setelah Iduladha, ia bakal mengukuhkan pengurus partai di lima kecamatan di Pontianak, tetapi ajal lebih dahulu menjelang.
"Bapak kecapekan," kata Rico.
Motivator
Seorang pengurus DPD Partai Hanura Kalbar, Baisuni, mengaku mengenal Aspar Aswin sejak muda.
"Ia seorang motivator, inisiator, dan pemimpin yang berjiwa merakyat," kata Baisuni, mantan Bupati Kabupaten Sanggau, 1988-1998.
Ketika Aspar Aswin menjabat sebagai Komandan Korem 121/ABW, Baisuni menjabat sebagai Kepala Seksi Intel Korem. Hubungan baik keduanya berlanjut hingga bergabung dalam partai politik.
Selain memiliki figur yang disebutkan Baisuni, Aspar Aswin juga diakui cukup berwibawa, sederhana, dekat dengan bawahan dan menguasai bidangnya.
Asisten I Sekretaris Daerah Kalbar, Mahfud Suhendro, mengisahkan kejadian dalam acara makan di sebuah hotel di Jakarta bersama sejumlah pejabat Kalbar.
Ketika itu, para pejabat memesan masakan Italia seperti spaghetti dan pizza agar tidak terlihat "sepok"(kuno), tetapi Aswin malah memesan nasi timbel.
"Para pejabat menjadi malu," katanya.
Suhendro menambahkan, saat bekerja Aswin sering lupa waktu untuk istirahat makan. Lupa makan tampaknya juga menjadi salah satu yang melatarbelakangi kepergian Aswin.
Ketika mendampingi sang istri pada acara FKPPI, beberapa jam sebelum meninggal dunia, Aspar Aswin belum makan malam. Ia baru makan bubur pada pukul 23:00 WIB sepulang dari pertemuan tersebut.
Kebiasaan telat makan itu sejak lama dilakukan Aspar Aswin.
Riwayat jabatan
Semasa hidupnya, Aspar Aswin mengawali rangkaian riwayat jabatannya pasca lulus Akademi Militer Nasional (AMN) 1963.
Di institusi militer ia mengawali karir sebagai Komandan Peleton Yonif 314 Linud Siliwangi di Majalengka, Jabar, 1964. Kemudian menjadi Wakil Komandan Kompi Yonif 330/SLW, Komandan kompi Yonif 330/SLW, dan PASI-2 Yonif 330/SLW pada 1971.
Kemudian ditempatkan di Brigade 17 Kostrad Bandung, lalu di Resimen Induk Kodam (Rindam) I Kutaraja, Nanggro Aceh Darussalam sebagai Kepala Litbang Rindam pada 1973, kemudian sebagai Kepala Pendidikan dan Latihan di Rindam itu.
Berpangkat Mayor, Aspar Aswin tahun 1975 menjabat Komandan Yonif 113/DAM I Kotabakti-Aceh.
Beragam jabatan lain yang pernah didudukinya adalah menduduki jabatan Komandan Kodim (Dandim) 0108/Dam I Kutacane, Kepala Staf Korem (Kasrem) 121/Alambhana Wanawwai Sintang, Kalbar, asisten operasi Kepala Staf Kodam (Kasdam) VII Tanjungpura di Pontianak.
Aspar Aswin dinilai berhasil di Kalbar sehingga dipromosikan sebagai Komandan Rinifdam IX Udayana di Tabanan, Bali, 1985-1986. Dari Bali kemudian kembali bertugas ke Kalbar sebagan Danrem 121/ABW pada 1986-1989. Setelah berakhir masa tugas, Aspar Aswin diangkat sebagai Wakil Komandan Puspansisops di Cimahi, Jabar.
Belum setahun bertugas di Cimahi, Aspar Aswin mendapat kehormatan meniti karir di jabatan sipil sebagai Wakil Gubernur Bali, dengan pangkat Jenderal berbintang satu.
Bekal pengalaman yang dimilikinya, maka pada 1993 terpilih sebagai Gubernur Kalbar periode 1993-1998. Pengangkatan berdasarkan Keppres nomor 13/M/1993 tanggal 13 Januari 1993. Kemudian terpilih kembali sebagai gubernur Kalbar periode 1998-2003, berdasarkan Keppres RI No 2/M/1998 tanggal 9 Januari 1998.
Aspar Aswin merupakan gubernur ketujuh Kalbar atau gubernur kedua yang menjabat selama dua periode setelah Sujiman.
"Dia memang berjiwa pemimpin," kata H Djawari, mantan wakil gubernur era Aspar Aswin.
Bintang jasa dan penghargaan yang pernah diterima, Satya Lencana Penegak (1966), Satya Lencana GOM-VIII (1968), Satya Lencana GOm-VIII (1983), Satya Lencana VIII TH (1973), Satya Lencana XVI TH (1981), Satya Lencana XXIV TH (1989).
Kemudian, Darjah Kebesaran Kepahlawanan Angkatan Tentara Malaysia, Yudha Dharma Nararya (1996), Kartika Eka Paksi Pratama (1996), Satya Lencana Pembangunan Bidang Pertanian (1996), Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi (!996), Satya Lencana Kebaktian Sosial (1996), Manggala Karya Kencana KL I A (1997), Lencana Melati (1997), Satya Lencana Abdi Satya Bhakti (1997), dan Abdimanggalya Karya (1997).
Aspar Aswin (anak pasangan Aswin dan Tuminah) menikah dengan Sri Kadarwati pada 17 Juli 1966. Wanita yang dinikahinya itu lahiran Muntilan tahun 1947.
Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga putra, Setya Dewi, Dony Satryadi, dan Rico Andri Setyadi. Dari anak-anak mereka, Aspar Aswin dikaruniai lima cucu.
Pelepasan jenazah berlangsung secara militer, dengan Komandan upacara, Gubernur Kalbar 2003-2008 Usman Ja'far.
Ribuan orang handai taulan, mulai dari pejabat pemprov Kalbar, para karyawan/staf, anggota DPRD, tokoh masyarakat, ulama, pejabat militer, wartawan, tetangga, dll, mendatangi kediaman pribadi yang biasanya tampak lengang tersebut.
Jenazah kemudian dibawa ke Masjid Raya Mujahidin, pada pukul 10.00 WIB untuk disalatkan. Setelah itu, langsung berangkat menggunakan ambulance Rumah Sakit Umum Dr Soedarso Pontianak, menuju ke bandara Supadio.
Menurut Rico, jenazah dibawa ke Temanggung karena semasa hidup, pernah menyatakan ingin istirahat penuh di tempat tinggal keluarga besar istrinya.
Diantara pengantar jenazah yang menaiki tangga pesawat tampak Husna Sabri masuk ke dalam burung besi berkapasitas 10 penumpang itu. Senyum tersungging di wajah Husna. Keinginannya mengantar jenazah hingga liang lahat tercapai.
"Selamat jalan Pak Aswin, jasamu dikenang masyarakat Kalbar" (T.N005/
Sabtu, 15 Desember 2007
LKBN ANTARA Pontianak, Dulu dan Kini
Pontianak Post
Sabtu, 15 Desember 2007
Oleh : Nurul Hayat
Kapan persisnya ANTARA Pontianak lahir? Tidak ada penjelasan pasti yang dapat mengungkap sejarah kelahiran tersebut. Dari literatur yang ada menyebut ANTARA Pontianak sudah ada sekitar tahun 1950-an.
Namun awal berdirinya ANTARA Pontianak tidak terlepas dari peran dua bersaudara, Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh yang masa itu mendirikan surat kabar “Suasana”.
Ibrahim Saleh dalam susunan personalia surat kabar “Suasana” bertindak sebagai pemimpin umum. Sedangkan Aliaswat Saleh, kakak tertuanya, ditunjuk sebagai pimpinan redaksi.
Dua bersaudara tersebut kemudian mengubah surat kabar “Suasana” menjadi harian “Pembangunan”, menyusul hengkangnya tentara Jepang dari Kota Pontianak. Harian baru tersebut terbit dengan dua halaman, sama halnya seperti surat kabar “Suasana”.
Harian “Pembangunan” berjalan beberapa tahun, kemudian Direktur Kantor Berita ANTARA, H Adam Malik, pada 1953 menunjuk Ibrahim Saleh sebagai koresponden ANTARA di Pontianak. Kantor ANTARA kemudian beralamat di Jl Tanjungpura No. 17 (saat ini lokasinya menjadi kantor cabang Bank Mandiri).
Kala itu, penyajian informasi dari ANTARA kepada pelanggan dalam bentuk buletin tidak langsung ditangani oleh Ibrahim Saleh. Pelanggan mendapatkan buletin langsung dari kantor pusat dengan pengiriman melalui pos.
Kantor harian “Pembangunan” dan koresponden ANTARA kemudian digunakan oleh Universitas Daya Nasional (kini Universitas Tanjungpura). Sehingga Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh memutuskan pindah kantor ke Jalan Veteran (saat ini menjadi Jalan Johar No. 1). Merupakan bangunan Kantor Perpustakaan Lembaga Pers dan Pendapat Umum (LPPU).
Berdasarkan pemberitahuan dari Pedarmilda Kalimantan Barat kepada tiga orang staf pimpinan harian “Pembangunan”, yakni M Imran Pasani, Soekirdi Hartopartono dan Assuri Mahyus, sejak Mei 1962, harian “Pembangunan” berkantor di LPPU.
Maka sejak itu pula, koresponden Kantor Berita ANTARA yang ketika itu dirangkap Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh, berkantor di tempat yang sama, di Jalan Johar No. 1, Pontianak.
Gedung kantor tersebut memiliki konstruksi bangunan gaya Melayu dan dibangun oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Kalbar pada 1959/1960. Sampai saat ini konstruksi bangunan itu maish tetap dipertahankan sebagai ciri khas Kota Pontianak.
Pengembangan koresponden ANTARA menjadi kantor cabang terjadi pada tahun 1965, dan tetap berada di lokasi dahulu (bahkan hingga saat ini). Peralihan status ANTARA juga diwarnai kondisi perpolitikan tanah air yang memang sedang memanas saat itu.
Namun, Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh mulai sibuk dengan perusahaan pelayaran “Karimata” yang mereka kelola bersama-sama.
Pada 1 Agustus 1965, LKBN ANTARA Pusat menempatkan tiga orang wartawan di LKBN ANTARA Cabang Pontianak. Seorang di antaranya, Drs. Basrin Nourbustan (Nasionalis) ditetapkan sebagai Kepala Cabang. Dua lainnya, adalah H Abdulkadir Adam (Agama) dan Bambang Sumitro (Komunis) untuk memenuhi persyaratan Nasakom, sesuai dengan iklim politik waktu itu.
Mereka dilantik oleh Wakil Ketua Dewan Pimpinan LKBN ANTARA Pusat H Mahbub Djunaedi (unsur agama) pada tanggal 4 Agustus 1965.
Memasuki program teleksasi, pada tanggal 7 Juli 1980, Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat, H Soejiman meresmikan beroperasinya Telex di LKBN ANTARA Cabang Pontianak.
Harian “Akcaya” merupakan satu-satunya surat kabar yang terbit di Pontianak menjadi pelanggan pertama telex LKBN ANTARA di Pontianak. Produk ANTARA lainnya, semisal Warta Perundang-undangan, Warta Berita sejak lama tersebar semakin dikenal luas di daerah ini, menyusul kemudian produk lainnya.
Sebagai pelaksanaan program penyegarannya, Pemimpin Umum LKBN ANTARA Ir Handjojo Nitimihardjo pada 15 Februari 1990 menarik Drs Basrin Nourbustan ke LKBN ANTARA Pusat di Jakarta.
Sebagai kepala cabang yang baru ditunjuk Sjafri Kaliludin dan bersamaan dengan itu pula status cabang diubah menjadi biro. Kelanjutan pelaksanaan program penyegaran itu, Sjafri Kaliludin digantikan oleh Edy Supriatna Sjafe’i. Serah terima jabatan antara keduanya berlangsung pada 10 Januari 1995.
Mulai tahun 1995, era telex diganti oleh komputer. Bahkan pelanggan ANTARA Biro Pontianak beralih ke sistem VSAT, termasuk harian “Akcaya”. Disamping langganan buletin dari Pemerintah Daerah Kalbar, pemerintah kabupaten dan perseorangan, produk ANTARA semakin “menancapkan kukunya” dengan adanya pelanggan data seketika. Untuk pelayanan langganan ini tercatat antara lain PT Credit Euro Utama di Pontianak yang juga membuka kantor cabang di Kota Singkawang.
Di samping itu, ada juga pelanggan lainnya di Panin Bank dan PT Panca Rezeki Utama yang berkedudukan di Pontianak.
Edy Supriatna Sjafe’i kemudian pada 1 Juli 2002 ditarik ke Jakarta dan jabatan kepala Biro ANTARA Pontianak diserahkan kepada Agustinus Jo Seng Bie. Ketika itu pula, pelanggan paket berita ANTARA dari grup Jawa Post, masing-masing harian “Pontianak Post” dan “Equator”, berhenti berlangganan paket berita ANTARA.
Namun begitu, dari hasil kunjungan kerja Gubernur Kalbar, Usman Ja’far ke kantor LKBN ANTARA di Jakarta, melahirkan bentuk kerjasama baru, melalui Badan Komunikasi, Informasi, dan Kearsipan Daerah (BKIKD). Pemerintah provinsi Kalbar, menganggarkan dalam APBD tahun 2004 bentuk kerjasama dengan ANTARA, yakni pelayanan publikasi berita melalui ANTARA.
Jo Seng Bie menjabat selama 3 tahun 3 bulan dan pada 14 Oktober 2005, melalui Surat Keputusan Nomor 128/PAP/X/2005, pewarta Nurul Hayat ditetapkan sebagai Kepala Biro ANTARA di Pontianak menggantikan A Jo Seng Bie yang pindah menjadi Kepala Biro di Batam.
Nurul Hayat melanjutkan kerjasama yang telah terjalin antara BKIKD Kalbar dengan LKBN ANTARA, dalam bentuk Banner Advertorial, yakni fasilitas pelayanan promosi Pemerintah Provinsi Kalbar melalui situs://www.antara.co.id sejak tahun 2006-2007.
Setelah selama beberapa tahun lamanya, ANTARA tidak melayani pelayanan paket berita kepada pelanggan media massa, maka sejak Mei 2007, sebuah harian, “Borneo Tribune”, melanggani paket berita bahasa Indonesia-Inggris dan paket foto campuran dan soccer. Selain itu, jumlah pelanggan WPU ANTARA di Pontianak saat ini mencapai 44 eksemplar. Terdiri dari pelanggan instansi/dinas di pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, para anggota DPRD, dan perseorangan.
Seiring dengan penetapan status Perusahaan Umum untuk LKBN ANTARA, maka tugas dan tanggung jawab kantor Biro ANTARA di setiap provinsi semakin besar dan berat. Misi ANTARA yang semula lebih kepada kepentingan sosial, saat ini juga harus memerhatikan kepentingan bisnis, guna peningkatan pendapatan.
Berkaitan itu pula, Biro ANTARA Pontianak kini sedang melakukan sejumlah upaya, di antaranya promosi, sosialisasi dan menjalin kerjasama yang lebih erat dengan pelanggan, mitra, dan lembaga lainnya.
* Penulis adalah Kepala Biro LKBN Antara Pontianak
Sabtu, 15 Desember 2007
Oleh : Nurul Hayat
Kapan persisnya ANTARA Pontianak lahir? Tidak ada penjelasan pasti yang dapat mengungkap sejarah kelahiran tersebut. Dari literatur yang ada menyebut ANTARA Pontianak sudah ada sekitar tahun 1950-an.
Namun awal berdirinya ANTARA Pontianak tidak terlepas dari peran dua bersaudara, Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh yang masa itu mendirikan surat kabar “Suasana”.
Ibrahim Saleh dalam susunan personalia surat kabar “Suasana” bertindak sebagai pemimpin umum. Sedangkan Aliaswat Saleh, kakak tertuanya, ditunjuk sebagai pimpinan redaksi.
Dua bersaudara tersebut kemudian mengubah surat kabar “Suasana” menjadi harian “Pembangunan”, menyusul hengkangnya tentara Jepang dari Kota Pontianak. Harian baru tersebut terbit dengan dua halaman, sama halnya seperti surat kabar “Suasana”.
Harian “Pembangunan” berjalan beberapa tahun, kemudian Direktur Kantor Berita ANTARA, H Adam Malik, pada 1953 menunjuk Ibrahim Saleh sebagai koresponden ANTARA di Pontianak. Kantor ANTARA kemudian beralamat di Jl Tanjungpura No. 17 (saat ini lokasinya menjadi kantor cabang Bank Mandiri).
Kala itu, penyajian informasi dari ANTARA kepada pelanggan dalam bentuk buletin tidak langsung ditangani oleh Ibrahim Saleh. Pelanggan mendapatkan buletin langsung dari kantor pusat dengan pengiriman melalui pos.
Kantor harian “Pembangunan” dan koresponden ANTARA kemudian digunakan oleh Universitas Daya Nasional (kini Universitas Tanjungpura). Sehingga Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh memutuskan pindah kantor ke Jalan Veteran (saat ini menjadi Jalan Johar No. 1). Merupakan bangunan Kantor Perpustakaan Lembaga Pers dan Pendapat Umum (LPPU).
Berdasarkan pemberitahuan dari Pedarmilda Kalimantan Barat kepada tiga orang staf pimpinan harian “Pembangunan”, yakni M Imran Pasani, Soekirdi Hartopartono dan Assuri Mahyus, sejak Mei 1962, harian “Pembangunan” berkantor di LPPU.
Maka sejak itu pula, koresponden Kantor Berita ANTARA yang ketika itu dirangkap Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh, berkantor di tempat yang sama, di Jalan Johar No. 1, Pontianak.
Gedung kantor tersebut memiliki konstruksi bangunan gaya Melayu dan dibangun oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Kalbar pada 1959/1960. Sampai saat ini konstruksi bangunan itu maish tetap dipertahankan sebagai ciri khas Kota Pontianak.
Pengembangan koresponden ANTARA menjadi kantor cabang terjadi pada tahun 1965, dan tetap berada di lokasi dahulu (bahkan hingga saat ini). Peralihan status ANTARA juga diwarnai kondisi perpolitikan tanah air yang memang sedang memanas saat itu.
Namun, Ibrahim Saleh dan Aliaswat Saleh mulai sibuk dengan perusahaan pelayaran “Karimata” yang mereka kelola bersama-sama.
Pada 1 Agustus 1965, LKBN ANTARA Pusat menempatkan tiga orang wartawan di LKBN ANTARA Cabang Pontianak. Seorang di antaranya, Drs. Basrin Nourbustan (Nasionalis) ditetapkan sebagai Kepala Cabang. Dua lainnya, adalah H Abdulkadir Adam (Agama) dan Bambang Sumitro (Komunis) untuk memenuhi persyaratan Nasakom, sesuai dengan iklim politik waktu itu.
Mereka dilantik oleh Wakil Ketua Dewan Pimpinan LKBN ANTARA Pusat H Mahbub Djunaedi (unsur agama) pada tanggal 4 Agustus 1965.
Memasuki program teleksasi, pada tanggal 7 Juli 1980, Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat, H Soejiman meresmikan beroperasinya Telex di LKBN ANTARA Cabang Pontianak.
Harian “Akcaya” merupakan satu-satunya surat kabar yang terbit di Pontianak menjadi pelanggan pertama telex LKBN ANTARA di Pontianak. Produk ANTARA lainnya, semisal Warta Perundang-undangan, Warta Berita sejak lama tersebar semakin dikenal luas di daerah ini, menyusul kemudian produk lainnya.
Sebagai pelaksanaan program penyegarannya, Pemimpin Umum LKBN ANTARA Ir Handjojo Nitimihardjo pada 15 Februari 1990 menarik Drs Basrin Nourbustan ke LKBN ANTARA Pusat di Jakarta.
Sebagai kepala cabang yang baru ditunjuk Sjafri Kaliludin dan bersamaan dengan itu pula status cabang diubah menjadi biro. Kelanjutan pelaksanaan program penyegaran itu, Sjafri Kaliludin digantikan oleh Edy Supriatna Sjafe’i. Serah terima jabatan antara keduanya berlangsung pada 10 Januari 1995.
Mulai tahun 1995, era telex diganti oleh komputer. Bahkan pelanggan ANTARA Biro Pontianak beralih ke sistem VSAT, termasuk harian “Akcaya”. Disamping langganan buletin dari Pemerintah Daerah Kalbar, pemerintah kabupaten dan perseorangan, produk ANTARA semakin “menancapkan kukunya” dengan adanya pelanggan data seketika. Untuk pelayanan langganan ini tercatat antara lain PT Credit Euro Utama di Pontianak yang juga membuka kantor cabang di Kota Singkawang.
Di samping itu, ada juga pelanggan lainnya di Panin Bank dan PT Panca Rezeki Utama yang berkedudukan di Pontianak.
Edy Supriatna Sjafe’i kemudian pada 1 Juli 2002 ditarik ke Jakarta dan jabatan kepala Biro ANTARA Pontianak diserahkan kepada Agustinus Jo Seng Bie. Ketika itu pula, pelanggan paket berita ANTARA dari grup Jawa Post, masing-masing harian “Pontianak Post” dan “Equator”, berhenti berlangganan paket berita ANTARA.
Namun begitu, dari hasil kunjungan kerja Gubernur Kalbar, Usman Ja’far ke kantor LKBN ANTARA di Jakarta, melahirkan bentuk kerjasama baru, melalui Badan Komunikasi, Informasi, dan Kearsipan Daerah (BKIKD). Pemerintah provinsi Kalbar, menganggarkan dalam APBD tahun 2004 bentuk kerjasama dengan ANTARA, yakni pelayanan publikasi berita melalui ANTARA.
Jo Seng Bie menjabat selama 3 tahun 3 bulan dan pada 14 Oktober 2005, melalui Surat Keputusan Nomor 128/PAP/X/2005, pewarta Nurul Hayat ditetapkan sebagai Kepala Biro ANTARA di Pontianak menggantikan A Jo Seng Bie yang pindah menjadi Kepala Biro di Batam.
Nurul Hayat melanjutkan kerjasama yang telah terjalin antara BKIKD Kalbar dengan LKBN ANTARA, dalam bentuk Banner Advertorial, yakni fasilitas pelayanan promosi Pemerintah Provinsi Kalbar melalui situs://www.antara.co.id sejak tahun 2006-2007.
Setelah selama beberapa tahun lamanya, ANTARA tidak melayani pelayanan paket berita kepada pelanggan media massa, maka sejak Mei 2007, sebuah harian, “Borneo Tribune”, melanggani paket berita bahasa Indonesia-Inggris dan paket foto campuran dan soccer. Selain itu, jumlah pelanggan WPU ANTARA di Pontianak saat ini mencapai 44 eksemplar. Terdiri dari pelanggan instansi/dinas di pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, para anggota DPRD, dan perseorangan.
Seiring dengan penetapan status Perusahaan Umum untuk LKBN ANTARA, maka tugas dan tanggung jawab kantor Biro ANTARA di setiap provinsi semakin besar dan berat. Misi ANTARA yang semula lebih kepada kepentingan sosial, saat ini juga harus memerhatikan kepentingan bisnis, guna peningkatan pendapatan.
Berkaitan itu pula, Biro ANTARA Pontianak kini sedang melakukan sejumlah upaya, di antaranya promosi, sosialisasi dan menjalin kerjasama yang lebih erat dengan pelanggan, mitra, dan lembaga lainnya.
* Penulis adalah Kepala Biro LKBN Antara Pontianak
Langganan:
Postingan (Atom)
